Saat AI Keputusan Offside Dituduh Memiliki 'Bias Algoritma' yang Menguntungkan Klub Raksasa

Saat AI Keputusan Offside Dituduh Memiliki ‘Bias Algoritma’ yang Menguntungkan Klub Raksasa

Lo pernah nggak sih, nonton derby Manchester dan tiba-tiba pengen banting remote gara-gara gol yang jelas-jelas offside malah disahkan? Bukan karena wasitnya buta. Bukan karena VAR-nya nggak ngeliat. Tapi karena sistem AI-nya punya “toleransi” yang entah dari mana asalnya. Dan yang paling bikin darah naik: toleransi itu selalu, entah kebetulan atau nggak, menguntungkan tim yang lagi diuntungkan.

Di 2026 ini, tuduhan “bias algoritma” bukan lagi konspirasi fans yang lagi emosi. Itu udah jadi pertanyaan serius yang bikin federasi, teknisi, dan pengamat sepak bola mulai angkat tangan. Dan yang paling gue soroti: netralitas AI itu ternyata cuma sebatas kode. Di baliknya, ada keputusan manusia, kontrak korporat, dan—mungkin—kepentingan yang nggak pernah kelihatan di layar.

Kasus Haaland: Ketika “Onside” Jadi Kata Paling Menjengkelkan di Old Trafford

Coba mulai dari yang paling fresh. September 2026, Manchester derby. Erling Haaland nyetak gol di menit ke-60. Hakim garis angkat bendera. Offside. Tapi VAR, Matt Donohue, menganalisis pakai semi-automated offside technology (SAOT) dan memutuskan Haaland onside. Gol disahkan. Manchester City menang .

Masalahnya? Ada Enzo Fernández. Dia berada di posisi offside, dan dia melompat ke arah bola tepat di depan bek Manchester United, Lisandro Martínez. Dalam hukum offside, itu udah cukup buat dianggap mengganggu permainan—bahkan tanpa menyentuh bola. Tapi Donohue nggak ngeliat itu. Dia cuma fokus ke posisi Haaland versus Dorgu, dan mengabaikan konteks yang lebih luas .

ProRef, badan yang ngurus wasit di Inggris, akhirnya ngaku: itu “error of judgement”. VAR seharusnya merekomendasikan on-field review. Tapi nggak .

Sekarang, siapa yang diuntungkan? Manchester City. Klub raksasa. Klub yang punya sumber daya, pengaruh, dan—mungkin—keberuntungan yang lebih sering berpihak ke mereka. Dan buat fans United, ini bukan pertama kalinya. Ini pola. Dan pola itu punya nama: bias algoritma.

Toleransi 5cm: “Perbaikan” yang Malah Bikin Masalah Baru

Oke, mari kita bedah teknologinya. SAOT di Premier League itu nggak sempurna. Sistem ini punya margin of error beberapa sentimeter. Buat ngatasi itu, Premier League ngambil keputusan yang—menurut gue—agak gila: mereka ngasih toleransi 5cm. Artinya, kalau seorang pemain dinilai offside kurang dari 5cm, gol tetap disahkan. Logikanya: “Kita lebih baik salah ngasih gol daripada salah ngebatalin gol yang sebenarnya onside” .

Kedengeran masuk akal, kan? Nggak. Karena dampaknya justru kebalikan. Kalau sistem punya margin error 5cm, dan lo ngasih toleransi 5cm lagi, maka error maksimal lo jadi 10cm, bukan 5cm. Lo menggandakan ketidakakuratan sistem .

Contoh nyata: Florian Wirtz, Januari 2026. Golnya ke gawang Fulham jelas offside di mata semua orang. Bahkan Wirtz sendiri ngaku dia ngerasa offside. Tapi gol tetap disahkan karena masuk dalam toleransi 5cm . Fans bingung. Pemain bingung. Dan yang paling parah: keadilan jadi taruhan.

Dua Vendor, Satu Kekacauan: Siapa yang Sebenarnya Ngatur?

Nah, ini bagian yang bikin gue mikir ada yang salah selain teknologi. Premier League adalah satu-satunya liga top yang menggunakan dua vendor berbeda buat VAR. Genius Sports ngoper SAOT. Hawk-Eye ngoper goal-line technology dan replay operator .

Artinya, ketika ada keputusan offside, VAR official harus berkomunikasi dengan orang dari Genius Sports yang duduk di ruangan terpisah, sementara dia juga ngeliat layar dari Hawk-Eye. Mantan wasit Premier League, Graham Scott, bilang ini “unnecessarily clunky”—terlalu ribet dan memperlambat keputusan .

Dan yang lebih parah: sistem Genius Sports punya kelemahan teknis yang udah bikin wasit kehilangan kepercayaan. Sistem ini gagal ketika kiper bukan orang terakhir dalam garis pertahanan. Dan gagal ketika ada banyak pemain di kotak penalti. Itu terjadi di semifinal Carabao Cup Januari 2026, ketika gol Semenyo ke gawang Newcastle dianulir setelah lima setengah menit karena sistem nggak bisa nentuin posisi kiper Nick Pope .

Wasit Premier League, menurut Telegraph, udah “losing faith” dan pengen ganti vendor. Mereka ngerasa jadi kambing hitam buat kegagalan teknologi yang bukan salah mereka .

Tapi, Jangan Salah Paham: Ini Bukan Konspirasi “Klub Raksasa”

Gue nggak mau lo ikut-ikutan nuduh ada konspirasi terorganisir yang sengaja nguntungin Manchester City atau klub besar lainnya. Karena buktinya nggak ada. Yang ada adalah sistem yang buruk, vendor yang gagal, dan aturan toleransi yang kontraproduktif.

Tapi di sinilah ironinya. Ketika sistemnya buruk, yang paling diuntungkan adalah tim yang paling sering berada di situasi kritis. Tim yang sering nyerang. Tim yang sering bikin gol. Tim yang punya pemain cepat yang sering berada di garis offside. Dan tim-tim itu biasanya adalah klub raksasa. Bukan karena algoritmanya “memihak” mereka. Tapi karena algoritma yang error cenderung menguntungkan pihak yang lebih agresif, dan pihak yang agresif biasanya adalah yang punya sumber daya lebih .

Dan yang paling bikin frustrasi: ketika error itu terjadi, nggak ada transparansi. Premier League bahkan sengaja nampilin gambar offside dari sudut miring, bukan dari garis lurus, buat nyembunyiin fakta bahwa mereka pakai toleransi. Kalau mereka nampilin dari sudut yang bener, orang bakal liat bahwa pemain yang “onside” itu sebenarnya sedikit offside . Jadi bukan cuma sistemnya yang bermasalah. Cara mereka komunikasiin keputusan itu juga manipulatif.

Kesalahan yang Sering Dilakuin (Dan Bikin Diskusinya Nggak Jalan)

Pertama: nyalahin wasitnya doang. Wasit di lapangan cuma ngeliat sekali. VAR official cuma ngeliat layar. Yang bikin sistemnya? Vendor. Yang milih vendornya? Liga. Yang bikin aturan toleransi 5cm? Liga. Jadi kalau lo marah, marah ke orang yang bikin aturannya, bukan ke orang yang jalanin.

Kedua: mikir “AI itu netral”. AI nggak netral. Dia dilatih pakai data. Dia diatur pakai aturan. Dan aturan itu dibuat sama manusia yang punya kepentingan. Toleransi 5cm itu bukan keputusan teknis. Itu keputusan filosofis yang nguntungin permainan menyerang. Dan permainan menyerang nguntungin tim yang punya pemain mahal.

Ketiga: ngabaikan “edge cases”. Sistem Genius Sports gagal di situasi yang nggak biasa: kiper bukan last man, banyak pemain di kotak, bola ketutup. Tapi justru situasi nggak biasa itulah yang sering jadi momen paling krusial. Gol di menit akhir. Drama di kotak penalti. Dan di situlah sistemnya paling rentan error .

Tips Praktis: Cara Nonton Bola Tanpa Kehilangan Akal

Pertama, pahami aturan toleransinya. Kalau lo tau bahwa Premier League punya toleransi 5cm, lo nggak akan kaget ketika gol yang keliatan offside disahkan. Lo mungkin tetap kesel. Tapi setidaknya lo kesel sama sistem yang bener, bukan sama wasit yang cuma jalanin aturan.

Kedua, cek apakah gambarnya dari sudut yang bener. Kalau lo liat gambar offside dari sudut miring, curiga. Premier League sengaja nampilin dari sudut itu buat nyembunyiin toleransi . Kalau lo mau bukti yang lebih jelas, cari analisis independen yang nunjukin garis lurus.

Ketiga, jangan jadi korban “outrage farming”. Media sosial bakal banjir gambar dan klip yang bikin lo marah. Tapi nggak semuanya akurat. Cek dulu apakah keputusannya konsisten sama aturan yang ada. Kalau nggak, baru marah. Kalau iya, marahnya ke aturannya.

Keempat (buat yang ngurus liga): transparansi itu penting. Kalau lo pakai toleransi, bilang. Kalau lo punya dua vendor, jelasin kenapa. Kalau lo gagal, akui. Jangan sembunyi di balik sudut kamera dan pernyataan PR yang nggak jelas. Fans bukan bodoh. Dan mereka nggak akan lupa ketika keputusan yang sama terjadi lagi di musim depan.

Jadi, Gimana?

Tuduhan “bias algoritma” di sepak bola 2026 itu nggak sepenuhnya salah, tapi juga nggak sepenuhnya bener. AI-nya nggak “memihak” Manchester City. Tapi sistem yang dipakai—dengan toleransi 5cm yang menggandakan error, dua vendor yang bikin kacau, dan kegagalan di edge cases—secara struktural menguntungkan tim yang lebih agresif dan lebih kaya. Dan itu, buat gue, udah cukup buat disebut bias.

Yang paling bikin gue sedih: sepak bola itu olahraga yang paling sederhana di dunia. Tendang bola, cetak gol, menang. Tapi kita udah sampai di titik di mana algoritma dan kontrak korporat nentuin siapa yang menang. Dan lo—sebagai suporter—cuma bisa nonton, marah, dan berharap sistemnya diperbaiki sebelum keputusan berikutnya merenggut sesuatu yang lebih besar dari tiga poin.

Pertanyaannya sekarang: kalau tim lo kalah karena keputusan SAOT yang error, lo bakal terima dengan lapang dada? Atau lo bakal mulai mikir, “Jangan-jangan algoritma ini emang nggak pernah netral”?